Integritas Pemimpin

Juli 1, 2009

Integritas Pemimpin
By Purnawan Kristanto – Posted on Juli 25th, 2008

Seorang aktor terkenal bernama Charles Coburn pernah bercerita begini: “Ketika masih kanak-kanak, saya jatuh cinta pada teater dan karena waktu itu belum ada bisokop, saya berkeliling menonton semua pertunjukan hidup yang saya jumpai.”

“Ayah saya memberi nasihat, ‘Nak, satu hal yang tidak pernah boleh engkau
lakukan ialah tidak boleh pergi ke pertunjukan tertutup yang mempertotonkan wanita-wanita telanjang.'”

“Tentu saja saya bertanya mengapa.”

“Dan kata ayah saya, ‘Karena engkau akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh engkau lihat.’ Ayah mengulanginya sekali lagi, ‘Karena engkau
akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh engkau lihat.'”

“Jawaban itu justru membuat saya penasaran. Saya malah semakin ingin tahu.
Pada kesempatan berikutnya, ketika saya mendapat cukup banyak uang, saya langsung pergi ke pertunjukan tertutup itu. Ayahku ternyata benar. Saya melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh saya lihat, yaitu Ayahku sendiri.”

Dalam istilah Jawa, apa yang dilakukan oleh ayah Charles Coburn dikatakan seperti “Gajah diblangkoni. Iso kojah (ngomong) nangin ora iso nglakoni” artinya, “Bisa memberi nasihat, tapi dia sendiri tidak melakukan hal itu.”Ayah Charles Coburn melarang anaknya menonton pertunjukan tarian telanjang, tapi dia sendiri malah menontonnya. Inilah contoh seorang yang tidak dapat memberi contoh atau teladan yang baik.

Ada seorang anak muda, seorang yang SALEH. Ia menunjukkan pengabdian yang tulus untuk menerima setiap tugas dalam bentuk apapun yang diberikan kepadanya. Ia tidak pernah membantah kepercayaan yang diberikan kepadanya. Semuanya itu diterimanya dengan baik dan bertanggung jawab.

Dia sering mendapat tugas khusus dari pemimpinnya untuk melayani ke beberapa tempat untuk mengatasi persoalan di dalam komunitas. Namun rupanya pelayanannya tidak selamanya berjalan mulus. Di dalam pelayanannya, dia mendapatkan dua hambatan. Hambatan yang pertama, berasal dari luar dirinya yaitu berupa ajaran sesat.

Hambatan kedua, berasal dari dalam dirinya, yaitu dari usianya yang masih muda. Pada saat memulai pelayanan, ia  berusia 15 tahun. Pada saat menerima surat yang pertama ini, ia baru berusia 33 tahun. Apakah sudah termasuk sangat tua? Ternyata tidak. Menurut tradisi Timur tengah, seseorang dapat dianggap dewasa pada usia 30 tahun. Namun bagi  seseorang yang menjabat sebagai guru atau pemimpin umat, umur 33 tahun ini masih dianggap terlalu muda.

Pada usia semuda ini, ia harus memimpin dan mengajar orang-orang yang lebih tua daripadanya. Hal ini membuat jemaat dan orang lain memandang remeh terhadap dirinya. Dalam bahasa di sini, mungkin saja ada orang yang berkata dengan sinis, “Huh, anak kemarin sore. Tahu apa kamu?”, “Kamu itu masih hijau, tidak usah sok tahu!” atau “Apa sih yang kamu tahu? Tahu nggak, rasanya baru kemarin aku mengganti popokmu.”

Dengan kata lain, saat itu umat/komunitas mempersoalkan kewibawaan dia sebagai pemimpin mereka. Menghadapi situasi seperti ini, apa yang harus dilakukan Timotius? Bagaimana dia dapat meningkatkan wibawanya di depan jemaatnya? Bagi seorang pemimpin, kewibawaan adalah sesuatu yang sangat penting. Tanpa kewibawaan, seorang pemimpin tidak akan mampu mengerakkan anak buahnya. Coba bayangkan seandainya Ivan Gunawan menjadi komandan pasukan tentara. Apa yang terjadi? Mungkin perintahnya akan ditertawakan anak buahnya, karena dia tidak memiliki kewibawaan sebagai seorang komandan militer.

Lalu darimanakah seseorang mendapatkan kewibawaanya? Ada beberapa sumber yang dapat mendatangkan kewibawaan:

1. Kefasihan berkata-kata. Seseorang
yang berbicara dengan baik dapat mempengaruhi orang untuk berbuat sesuatu. Sebagai contoh, bung Karno dan bung Tomo adalah orang yang pandai berbicara. Dengan berbicara di corong radio, bung Tomo berhasil membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk bertempur melawan tentara Inggris.

2. Kepandaian. Seorang yang pandai,
berilmu tinggi, berwawasan luas, mempunyai gelar yang banyak, biasanya disegani dimana-mana. Yohanes Surya dipercaya memimpin Tim Olimpiade Fisika karena punya kepandaian di bidang itu.

3. Kekuasaan. Seseorang yang memiliki
kedudukan penting akan dihormati banyak orang. Ketika kita bertemu dengan Presiden, maka secara otomatis kita akan menunduk hormat.

4. Uang. Orang kaya biasanya
ditempatkan sebagai orang terpandang. Apalagi jika dia dermawan.

5. Kecantikan/ketampanan. Kelebihan
fisik semacam ini biasanya mendatangkan kekaguman banyak orang.

6. Keturunan. Menjadi anak orang
ternama, biasanya akan menempatkan orang itu menjadi orang ternama juga. Contohnya Megawati atau anak-anak artis yang sekarang menjadi artis juga.

Namun sumber-sumber kewibawaan yang disebutkan tadi tidak dapat bertahan lama. Contohnya wibawa berdasarkan kekuasaan. Bagaimana jika dia tidak berkuasa lagi. Apakah dia masih dapat berwibawa. Sebagai contoh, mantan bupati Gunungkidul. Setelah turun dari jabatannya, sekarang ini dia mendekam di penjara karena dugaan kasus korupsi. Apakah dia masih memiliki kewibawaan? Rasanya tidak. Bagaimana dengan orang yang kehilangan uang? Atau kecantikannya semakin memudar seiring dengan pertambahan usianya? Kewibawaan seperti itu tidak akan bertahan lama.

Menurut guru dan coacher dari anak muda tersebut , cara yang terbaik untuk
mendapatkan kewibawaan adalah dengan keteladanan hidup. Ada sebuah contoh keteladanan yang bagus:

Suatu ada seorang ibu yang dengan risau menemui Mahatma Gandhi, sambil menggandeng putrinya. Dia menjelaskan bahwa putrinya mempunyai kebiasaan gemar makanan manis. “Dapatkan Mahatma menasihati anak saya dupa meninggalka kebiasaan buruk itu,” pinta ibu kepada Gandhi.

Gandhi berdiam sejenak, lalu berkata, “Bawalah kembali putrimu setelah tiga minggu. Saya akan berbicara kepadanya,” kata Gandhi. Ibu itu lalu pergi. Tiga minggu kemudian, dia kembali lagi bersama putrinya.

Kali ini Gandhi dengan tenang mendekati anak dan dengan kata-kata yang sederhana dia menjelaskan dampak buruk jika makan terlalu banyak makanan manis. Dia meyakinkan supaya anak perempuan itu meninggalkan kebiasaan buruknya.

Sang Ibu merasa lega dan berterimakasih pada Gandhi. Namun, dia itu masih
penasaran pada sesuatu. Dia bertanya kepada Gandhi, “Saya ingin tahu, mengapa tiga minggu yang lalu Anda tidak langsung mengatakan hal ini kepada putri saya. Mengapa harus menunggu tiga minggu?

“Dengan sabar Gandhi menjawab, “Soalnya tiga minggu yang lalu saya juga masih ketagihan makanan manis. Selama tiga minggu ini, saya harus menghentikan kebiasaan buruk saya sebelum saya menasihati putri ibu.”

ARTINYA perbuatan seorang pemipin harus sama dengan perkataannya. Inilah yang disebut dengan INTEGRITAS. Seorang pemimpin harus memiliki integritas. Yang dimaksud dengan integritas di sini adalah antara yang diucapkan oleh pemimpin itu sama dengan yang dilakukannya. Jika pemimpin itu berkata, ‘Mari kita mencapai yang terbaik!’, maka dia tidak boleh tidak mencapai yang terbaik. Pemimpin yang baik akan tetap menjaga integritasnya walaupun tidak ada orang yang melihatnya. Sebagai contoh, pada malam hari dia melewati lampu merah yang sepi. Tidak ada satu orang pun di sana. Seandainya dia menerobos lampu merah, tidak ada seorang pun yang tahu. Namun pemimpin yang berintegritas, tidak akan melakukan hal ini sekalipun tidak ada orang yang tahu.

Selanjutnya gurunya mengatakan bahwa keteladaan itu harus harus dinampakkan dalam bentuk kasih, kesetiaan dan kesucian. Dalam hal kasih, Seorang pemimpin yang baik memberikan teladan dalam mengasihi anakbuahnya. Sekalipun ada anak buahnya yang menentang dia, namun dia tetap mengasihi orang itu. Jika ada anak buahnya yang mengalami kesulitan, dia membantu dengan tulus.

Sementara itu keteladanan dalam kesetiaan ditunjukkan dengan kekokohan imannya kepada Yang Maha Kuasa. Dalam situasi seperti apapun, pemimpin tidak kehilangan keyakinannya atas kuasa -NYA. Dia selalu mengandalkan -NYA dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan perintah-Nya.

Kemudian kesucian ditunjukkan dengan pengendalian dirinya terhadap godaan dosa. Dia berusaha memberi contoh kepada anak buahnya dalam menghadapi segala tantangan dan godaan yang dapat menyebabkannya jatuh ke dalam dosa.

Integritas Pemimpin
By Purnawan Kristanto – Posted on Juli 25th, 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: