Tuhan Tidak Pernah Tidur

Juni 22, 2009

Tuhan Tidak Pernah Tidur
Oleh: Tidak Diketahui

Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor.  Telah lewat pukul 11
malam.  Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini.

Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat
berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan “acara” kehujanan.

Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual
nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang
sendirian, ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala.

Dia menyilahkan saya duduk.

“Disini saja dik, daripada kehujanan…,” begitu katanya saat saya
meminta ijin berteduh.

Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian
yang pekat.

Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya
berkata, “Tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja.”

Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak
sibuk. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah
pertunjukkan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar. Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Segera saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang.

Keadaan yang semula canggung mulai hilang.

Basa-basi saya bertanya, “Wah hujannya tambah deras nih, orang-orang
makin jarang yang keluar ya Pak?”

Bapak itu menoleh kearah saya, dan berkata, “Iya dik, jadi sepi nih dagangan
saya…” katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam.

“Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?” kata saya. “Wah, rezekinya jadi berkurang dong ya?”

Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja, tak banyak yang membeli kalau
hujan begini.. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu tambah
sedih. Namun, agaknya saya keliru…

“Gusti Tuhan, ora sare dik, (Tuhan itu tidak pernah istirahat)”, begitu katanya. “Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini.
Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun
nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya.”

Bapak itu melanjutkan, “Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung
kalau besok masih hujan…”

Degh. Duh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, “Gusti Tuhan ora sare”.

Tuhan Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Maknanya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan..

Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi,
dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka artinya saya cuma harus bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani.

Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan
bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok.

Hmm.. saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu
pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya.
“Ya Tuhan, Engkau Memang Maha yang Tak Pernah Beristirahat”

Untunglah, hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Tuhan Ora Sare..
Gusti Tuhan Ora Sare…

Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya.
Tuhan memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan
cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat
hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar.

Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan
sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin
ada hal yang menakjubkan saya lakukan.

Namun, rupanya tahun ini Tuhan punya rencana lain buat saya. Dalam setiap
doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah
kehidupan. Dan kali ini Tuhan pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya
tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar n istimewa.

Aku berdoa agar diberikan kekuatan…
Namun,Tuhan memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya. Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan…
Namun, Tuhan memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya.
Aku berdoa agar diberikan kecerdasan…
Namun, Tuhan memberikanku otak dan pikiran agar aku dapat belajar
dari-Nya.

Aku berdoa agar diberikan keberanian…
Namun, Tuhan memberikanku marabahaya agar aku mampu menghadapinya.
Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang…
Namun, Tuhan memberikanku orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat
berbagi dengannya.
Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan…
Namun,Tuhan memberikanku pintu kesempatan agar aku dapat
memanfaatkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: