Tuhan Sembilan Senti

Juni 22, 2009

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah
bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi
orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga
merokok, hansip-bintara- perwira
nongkrong merokok,

di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang
merokok,

Indonesia adalah semacam
firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi
perokok,

tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi
orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid
mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa
bertanya apakah ada buku tuntunan cara
merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang
duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival
merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau
penumpang merokok,

di andong Yogya kusirnya merokok, sampai
kabarnya kuda andong minta diajari pula
merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan
para dewa-dewa bagi perokok,

tapi tempat cobaan sangat berat bagi
orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan
baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asab rokok,

bayangkan isteri-isteri yang
bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau
mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika
dua orang bergumul saling menularkan
HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak
ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan
cueknya mengepulkan asap rokok di kantor
atau di stopan bus, kita ketularan
penyakitnya.

Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur
pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia, dan kita yang tak langsung
menghirup sekali pun asap tembakau itu,
bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di
pinggir lapangan voli orang
merokok,menyandang raket badminton orang
merokok,

pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis, turnamen
sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki
sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil
‘ek-‘ek orang goblok merokok,

di dalam lift gedung 15 tingkat dengan
tak acuh orang goblok merokok,

di ruang sidang ber-AC penuh, dengan
cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok
merokok,

Indonesia adalah semacam
firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi
orang perokok, tapi tempat siksa kubur
hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan
baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah
fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli
hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah
mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih
warnanya, kemana-mana dibawa dengan
setia, satu kantong dengan kalung tasbih
99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang
sidang, tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan, cuma
sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan pertanda yang terbanyak
kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit
golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di
ruangan AC penuh itu.

Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa
tasyrabud dukhaan, ya ustadz.

Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi
mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).

Daging khinzir diharamkan.

4000 zat kimia beracun ada pada sebatang
rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.

Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi
belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut
mendengar perbandingan ini.

Banyak yang diam-diam membunuh
tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi
itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka
berfikir.

Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin
pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari
ini,

sejak tadi pagi sudah 120 orang di
Indonesia mati karena penyakit rokok.

Korban penyakit rokok lebih dahsyat
ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor, cuma setingkat
di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat
berkuasa di negara kita, jutaan
jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong
baju dan celana,

dibungkus dalam kertas berwarni dan
berwarna,diiklankan dengan indah dan
cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum
menyucikan diri,

tidak perlu ruku’ dan sujud untuk
taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena
orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat
lewat upacara menyalakan api dan sesajen
asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi
berhala-berhala ini.

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: