15 Ciri-ciri Lelaki Berbakat Kaya
Mei 6, 2010
15 Ciri-ciri Lelaki Berbakat Kaya
FYI
Anda seorang wanita? Apakah Anda sedang mencari calon suami?Mencintai seseorang karena harta bukanlah hal yang keliru meskipun sebagian orang akan mengatakan “cewek matre”. Harta tidak akan bisa Anda nafikan meskipun mulut kita menipu “aku mencintai dia apa adanya”. Yang salah jika Anda semata2 mencintai hartanya. Anda “matre”? Oke, ini nih ciri2 laki-laki yang berbakat kaya dalam hidupnya :
1. PUNYA BEBERAPA REKENING
Lihat apakah kekasih Anda punya rekning bank lebih dari satu. Ini bisa jadi indikasi dia berbakat kaya. Karena, biasanya orang yang punya rekening tabungan dua atau lebih cenderung berusaha mengatur uangnya dengan benar. Lelaki tipe ini memisahkan pos-pos pnghasilannya. Misal, satu rekening digunakan hanya untuk menerima transfer gaji dan belanja, rekening lainnya untuk tabungan.
2. SUKA MENOLONG
Tidak tepat jika orang yang suka menimbun harta, pelit, serta enggan berbagi dan memberi adalah orang yang berbakat kaya. Justru lelaki yang mudah tergerak hatinya dan gampang menolong oranglah yang pantas Anda lirik. Dia adalah tipe orang yang akan relatif mudah hidupnya. Entah bagaimana caranya, Anda berdua akan sangat jarang kesulitan uang. Dan yang terpenting, kenikmatan memberi itu memang tak ada penggantinya.
3. PUNYA CITA-CITA
Jangan harap Si Dia berbakat kaya jika hidupnya dialirkan bagai sungai, entah hendak bermuara di mana. Lelaki yang berbakat kaya selalu punya rencana besar dalam hidupnya. Ada sesuatu di masa depan yang hendak diraihnya. Untuk itu, dia akan punya rencana jangka pendek dan menengah untuk mencapai cita-citanya. Dalam bercita-cita, dia tidak takut ada mmpi yang tampaknya mustahil.
4. TAK BERHOBI SPESIFIK
Lelaki yang punya hobi spesifik cenderung menghabiskan uangnya untuk hobinya. Ini juga berlaku untuk lelaki yang hobi berbelanja. Tentu saja ada orang yang punya hobi spesifik punya urat kaya. Namun, toh tidak semua orang punya nasib bisa kaya begitu saja. Lelaki yang tidak punya hobi spesifik biasanya akan mengeluarkan uangnya untuk berbelanja berdasarkan mood. Dia cenderung merasa tidak punya kebutuhan spesifik, sehingga enggan membeli seusatu.
5. BUTA HARGA
Dia tidak tahu persis apa bedanya barang mahal atau murah. Buatnya, kemeja ya kemeja. Bentuknya seperti itu, ada ukurannya yang pas dan pantas dipakai ke kantor. Lelaki seperti ini tidak akan bermasalah dengan kemeja murahnya.
6. HIDUNG BISNIS
Apakah Anda pernah mendengar dia mengatakan (kurang lebih), “Ini bisa jadi peluang bisnis. Bisa dicoba.” Artinya, dia dapat melihat sesuatu, sekecil apa pun, sebagai sebuah peluang bisnis. Tiak banyak orang yang punya kemampuan seperti ini. Jadi, kalau dia kerap melontarkan komentar yang berhubungan dengan peluang bisnis, bisa jadi ia memang berbakat kaya.
7. PEKERJA KERAS
Punya hidung bisnis saja tidak cukup tanpa kerja keras. Ini yang membedakan seorang pemimpi kelas berat dengan pengejar mimpi. Seorang pengejar mimpi akan berusaha sekuatnya untuk mewujudkan cita-citanya. Tentunya itu dengan kerja keras.
8. KEAHLIAN KHUSUS
Perhatikan deh apakah Si Dia punya satu atau dua keahlian khusus. Misalnya, dia menguasai komputer dengan baik, pandai melobi, atau apa pun. Kemampuan khusus ini bisa jadi modal dia dalam menjalani hidupnya. Lelaki tipe ini cenderung survive dalam hidupnya.
9. BANYAK TEMAN
Temannya ada di mana-mana. Tidak hanya mantan teman-teman SMA, kuliah, atau kantor. Tapi juga dari komunitas lain, yang mungkin Anda tidak pernah duga sebelumnya. Orang yang banyak teman bisa diartikan punya networking yang cukup luas sehingga ditaruh di mana pun dia akan bisa hidup (dengan baik).
10. MEMELIHARA PERTEMANAN
Kadang Anda jengkel karena dia rajin menelepon atau SMS yang tidak penting ke teman-temannya. Just say hello saja bisa berkepanjangan. Mestinya Anda tidak perlu kesal karena ini adalah caranya untuk memelihara pertemanan. Orang boleh punya banyak teman, tapi jika dia tidak bisa memeliharanya, maka sia-sia saja.
11. MUDAH BERTEMAN
Hanya orang yang menyenangkan yang mudah berteman. Pergi ke tempat baru mana pun, dia bisa dengan mudah punya teman ngobrol. Ini menandakan dia orang yang terbuka, punya sense of humor, dan berwawasan cukup luas. Orang-orang seperti ini biasanya tidak sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk jenis pekerjaan baru. Sehingga dia tidak perlu khawatir tidak punya pekerjaan yang baik.
12. PERCAYA DIRI
Dia tahu persis apa kelebihan dan kekurangannya, dan percaya orang lain pun begitu. Sehingga, dia tidak gentar ketika berinteraksi dengan orang lain, atau diharuskan melakukan sesuatu yang baru. Termasuk dia percaya bahwa dia bisa hidup layak hari ini atau esok lusa, bersama Anda.
13. FOKUS
Dalam melakukan apa pun, dia fokus. Perhatiannya tidak mudah terceraikan oleh hal lain. Orang yang fokus biasanya punya tanggung jawab yang baik. Ini berhubungan dengan bagaimana dia berusaha mencapai cita-citanya, menyelesaikan pekerjaannya, dan serius membangun hidup bersama Anda.
14. OPTIMIS
Hampir tidak pernah Anda mendengar, “Ah, susah”, Enggak bisa”, “Mustahil aku bisa melakukannya”, “Malas ah”, dan yang sejenisnya. Lelaki pesimis akan sulit survive dalam hidupnya. Keoptimisan bisa membuat seseorang mampu melakukan sesuatu yang secara hitungan di atas kertas sulit.
15. SEHAT
Lelaki penyakitan akan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tidak melakukan apa-apa.. Belum lagi ongkos dokter dan rumah sakit yang makin tidak masuk akal mahalnya.
Murid Confusius
April 5, 2010
Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik.
Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang.
Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.
Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?
“Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi”.
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu?
Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan”.
Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”
Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu”. Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.
Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23.
Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.” Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.
Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius
tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.
Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.
Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai,
dan memberi Yan Hui dua nasehat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.”
Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir,
kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius
dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.
Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya.
Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati
ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya.
Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh.
Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.
Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”
Confusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir,
makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.
Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.
Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”
Confusius bilang: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.
Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun.
Murid benar2 malu.” Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.
Cerita ini mengingatkan kita:
Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.
Banyak hal ada kadar kepentingannya.
Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.
Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.
Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)
Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)
Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (suami tidak betah di rumah)
Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman).
Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta
April 5, 2010
Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta
Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.
Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.
Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng. .sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk nenjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam, bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya. Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannva yanq bikin sakit.
Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.
Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang.
Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar istri masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia. Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata.
Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, “Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?”
Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena nnencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., “Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan,
Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,”kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik.
Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya kah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat yang dengan cepat rnenggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri. Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. indahnya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya. Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda. atao anda sebagai istri bisa mengungkapkan isi hati anda pada suami tercinta…………atao anda yang masih single bisa mengungkapkan keinginan anda pada calon pasangan agar lebih bisa untuk bijak…….
HATI SELUAS DUNIA
Agustus 26, 2009
Dahulu kala, hiduplah seorang guru yang terkenal bijaksana. Pada suatu pagi, datanglah seorang pemuda dengan langkah lunglai dan rambut masai. Pemuda itu sepertinya tengah dirundung masalah. Tanpa membuang waktu, dia mengungkapkan keresahannya: impiannya gagal, karier, cinta, dan hidupnya tak pernah berakhir bahagia.
Sang Guru mendengarkannya dengan teliti dan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Dia taburkan garam itu ke dalam gelas, lalu dia aduk dengan sendok.
” Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?” pinta Sang Guru.
“Asin dan pahit, pahit sekali,” jawab pemuda itu, sembari meludah ke tanah.
Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga di hutan dekat kediamannya. Kedua orang itu berjalan beriringan dalam kediaman. Sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Sang Guru lalu menaburkan segenggam garam tadi ke dalam telaga. Dengan sebilah kayu, diaduknya air telaga, membuat gelombang dan riak kecil.
Setelah air telaga tenang, ia pun berkata, “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah.”
Saat tamu itu selesai meneguk air telaga, Sang Guru bertanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar,” sahut pemuda itu.
“Apakah kamu masih merasakan garam di dalam air itu?” tanya Sang Guru..
“Tidak,” jawab si anak muda.
Sang Guru menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk bersimpuh di tepi telaga.
“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.Tetapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita pakai. Kepahitan itu, selalu berasal dari bagaimana cara kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan atau kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan: lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskan cara pandang terhadap kehidupan. Kamu akan banyak belajar dari keluasan itu.”
“Hatimu adalah wadah itu. Batinmu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah hatimu seluas telaga yang mampu meredam setiap kepahitan. Hati yang seluas dunia!”
Keduanya beranjak pulang. Sang Guru masih menyimpan “segenggam garam” untuk orang-orang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan hati.
*For a better world, for a better you*
Integritas Pemimpin
Juli 1, 2009
Integritas Pemimpin
By Purnawan Kristanto – Posted on Juli 25th, 2008
Seorang aktor terkenal bernama Charles Coburn pernah bercerita begini: “Ketika masih kanak-kanak, saya jatuh cinta pada teater dan karena waktu itu belum ada bisokop, saya berkeliling menonton semua pertunjukan hidup yang saya jumpai.”
“Ayah saya memberi nasihat, ‘Nak, satu hal yang tidak pernah boleh engkau
lakukan ialah tidak boleh pergi ke pertunjukan tertutup yang mempertotonkan wanita-wanita telanjang.’”
“Tentu saja saya bertanya mengapa.”
“Dan kata ayah saya, ‘Karena engkau akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh engkau lihat.’ Ayah mengulanginya sekali lagi, ‘Karena engkau
akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh engkau lihat.’”
“Jawaban itu justru membuat saya penasaran. Saya malah semakin ingin tahu.
Pada kesempatan berikutnya, ketika saya mendapat cukup banyak uang, saya langsung pergi ke pertunjukan tertutup itu. Ayahku ternyata benar. Saya melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh saya lihat, yaitu Ayahku sendiri.”
Dalam istilah Jawa, apa yang dilakukan oleh ayah Charles Coburn dikatakan seperti “Gajah diblangkoni. Iso kojah (ngomong) nangin ora iso nglakoni” artinya, “Bisa memberi nasihat, tapi dia sendiri tidak melakukan hal itu.”Ayah Charles Coburn melarang anaknya menonton pertunjukan tarian telanjang, tapi dia sendiri malah menontonnya. Inilah contoh seorang yang tidak dapat memberi contoh atau teladan yang baik.
Ada seorang anak muda, seorang yang SALEH. Ia menunjukkan pengabdian yang tulus untuk menerima setiap tugas dalam bentuk apapun yang diberikan kepadanya. Ia tidak pernah membantah kepercayaan yang diberikan kepadanya. Semuanya itu diterimanya dengan baik dan bertanggung jawab.
Dia sering mendapat tugas khusus dari pemimpinnya untuk melayani ke beberapa tempat untuk mengatasi persoalan di dalam komunitas. Namun rupanya pelayanannya tidak selamanya berjalan mulus. Di dalam pelayanannya, dia mendapatkan dua hambatan. Hambatan yang pertama, berasal dari luar dirinya yaitu berupa ajaran sesat.
Hambatan kedua, berasal dari dalam dirinya, yaitu dari usianya yang masih muda. Pada saat memulai pelayanan, ia berusia 15 tahun. Pada saat menerima surat yang pertama ini, ia baru berusia 33 tahun. Apakah sudah termasuk sangat tua? Ternyata tidak. Menurut tradisi Timur tengah, seseorang dapat dianggap dewasa pada usia 30 tahun. Namun bagi seseorang yang menjabat sebagai guru atau pemimpin umat, umur 33 tahun ini masih dianggap terlalu muda.
Pada usia semuda ini, ia harus memimpin dan mengajar orang-orang yang lebih tua daripadanya. Hal ini membuat jemaat dan orang lain memandang remeh terhadap dirinya. Dalam bahasa di sini, mungkin saja ada orang yang berkata dengan sinis, “Huh, anak kemarin sore. Tahu apa kamu?”, “Kamu itu masih hijau, tidak usah sok tahu!” atau “Apa sih yang kamu tahu? Tahu nggak, rasanya baru kemarin aku mengganti popokmu.”
Dengan kata lain, saat itu umat/komunitas mempersoalkan kewibawaan dia sebagai pemimpin mereka. Menghadapi situasi seperti ini, apa yang harus dilakukan Timotius? Bagaimana dia dapat meningkatkan wibawanya di depan jemaatnya? Bagi seorang pemimpin, kewibawaan adalah sesuatu yang sangat penting. Tanpa kewibawaan, seorang pemimpin tidak akan mampu mengerakkan anak buahnya. Coba bayangkan seandainya Ivan Gunawan menjadi komandan pasukan tentara. Apa yang terjadi? Mungkin perintahnya akan ditertawakan anak buahnya, karena dia tidak memiliki kewibawaan sebagai seorang komandan militer.
Lalu darimanakah seseorang mendapatkan kewibawaanya? Ada beberapa sumber yang dapat mendatangkan kewibawaan:
1. Kefasihan berkata-kata. Seseorang
yang berbicara dengan baik dapat mempengaruhi orang untuk berbuat sesuatu. Sebagai contoh, bung Karno dan bung Tomo adalah orang yang pandai berbicara. Dengan berbicara di corong radio, bung Tomo berhasil membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk bertempur melawan tentara Inggris.
2. Kepandaian. Seorang yang pandai,
berilmu tinggi, berwawasan luas, mempunyai gelar yang banyak, biasanya disegani dimana-mana. Yohanes Surya dipercaya memimpin Tim Olimpiade Fisika karena punya kepandaian di bidang itu.
3. Kekuasaan. Seseorang yang memiliki
kedudukan penting akan dihormati banyak orang. Ketika kita bertemu dengan Presiden, maka secara otomatis kita akan menunduk hormat.
4. Uang. Orang kaya biasanya
ditempatkan sebagai orang terpandang. Apalagi jika dia dermawan.
5. Kecantikan/ketampanan. Kelebihan
fisik semacam ini biasanya mendatangkan kekaguman banyak orang.
6. Keturunan. Menjadi anak orang
ternama, biasanya akan menempatkan orang itu menjadi orang ternama juga. Contohnya Megawati atau anak-anak artis yang sekarang menjadi artis juga.
Namun sumber-sumber kewibawaan yang disebutkan tadi tidak dapat bertahan lama. Contohnya wibawa berdasarkan kekuasaan. Bagaimana jika dia tidak berkuasa lagi. Apakah dia masih dapat berwibawa. Sebagai contoh, mantan bupati Gunungkidul. Setelah turun dari jabatannya, sekarang ini dia mendekam di penjara karena dugaan kasus korupsi. Apakah dia masih memiliki kewibawaan? Rasanya tidak. Bagaimana dengan orang yang kehilangan uang? Atau kecantikannya semakin memudar seiring dengan pertambahan usianya? Kewibawaan seperti itu tidak akan bertahan lama.
Menurut guru dan coacher dari anak muda tersebut , cara yang terbaik untuk
mendapatkan kewibawaan adalah dengan keteladanan hidup. Ada sebuah contoh keteladanan yang bagus:
Suatu ada seorang ibu yang dengan risau menemui Mahatma Gandhi, sambil menggandeng putrinya. Dia menjelaskan bahwa putrinya mempunyai kebiasaan gemar makanan manis. “Dapatkan Mahatma menasihati anak saya dupa meninggalka kebiasaan buruk itu,” pinta ibu kepada Gandhi.
Gandhi berdiam sejenak, lalu berkata, “Bawalah kembali putrimu setelah tiga minggu. Saya akan berbicara kepadanya,” kata Gandhi. Ibu itu lalu pergi. Tiga minggu kemudian, dia kembali lagi bersama putrinya.
Kali ini Gandhi dengan tenang mendekati anak dan dengan kata-kata yang sederhana dia menjelaskan dampak buruk jika makan terlalu banyak makanan manis. Dia meyakinkan supaya anak perempuan itu meninggalkan kebiasaan buruknya.
Sang Ibu merasa lega dan berterimakasih pada Gandhi. Namun, dia itu masih
penasaran pada sesuatu. Dia bertanya kepada Gandhi, “Saya ingin tahu, mengapa tiga minggu yang lalu Anda tidak langsung mengatakan hal ini kepada putri saya. Mengapa harus menunggu tiga minggu?
“Dengan sabar Gandhi menjawab, “Soalnya tiga minggu yang lalu saya juga masih ketagihan makanan manis. Selama tiga minggu ini, saya harus menghentikan kebiasaan buruk saya sebelum saya menasihati putri ibu.”
ARTINYA perbuatan seorang pemipin harus sama dengan perkataannya. Inilah yang disebut dengan INTEGRITAS. Seorang pemimpin harus memiliki integritas. Yang dimaksud dengan integritas di sini adalah antara yang diucapkan oleh pemimpin itu sama dengan yang dilakukannya. Jika pemimpin itu berkata, ‘Mari kita mencapai yang terbaik!’, maka dia tidak boleh tidak mencapai yang terbaik. Pemimpin yang baik akan tetap menjaga integritasnya walaupun tidak ada orang yang melihatnya. Sebagai contoh, pada malam hari dia melewati lampu merah yang sepi. Tidak ada satu orang pun di sana. Seandainya dia menerobos lampu merah, tidak ada seorang pun yang tahu. Namun pemimpin yang berintegritas, tidak akan melakukan hal ini sekalipun tidak ada orang yang tahu.
Selanjutnya gurunya mengatakan bahwa keteladaan itu harus harus dinampakkan dalam bentuk kasih, kesetiaan dan kesucian. Dalam hal kasih, Seorang pemimpin yang baik memberikan teladan dalam mengasihi anakbuahnya. Sekalipun ada anak buahnya yang menentang dia, namun dia tetap mengasihi orang itu. Jika ada anak buahnya yang mengalami kesulitan, dia membantu dengan tulus.
Sementara itu keteladanan dalam kesetiaan ditunjukkan dengan kekokohan imannya kepada Yang Maha Kuasa. Dalam situasi seperti apapun, pemimpin tidak kehilangan keyakinannya atas kuasa -NYA. Dia selalu mengandalkan -NYA dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan perintah-Nya.
Kemudian kesucian ditunjukkan dengan pengendalian dirinya terhadap godaan dosa. Dia berusaha memberi contoh kepada anak buahnya dalam menghadapi segala tantangan dan godaan yang dapat menyebabkannya jatuh ke dalam dosa.
Integritas Pemimpin
By Purnawan Kristanto – Posted on Juli 25th, 2008
GAM (Gerakan Aceh Merdeka)
Juli 1, 2009
GAM (Gerakan Aceh Merdeka)
Ada seorang Aceh dari kabupaten Pidie,
menulis surat ke anaknya yang ada
dipenjara Nusa Kambangan karena
dituduh terlibat GAM (Gerakan Aceh Merdeka).
Bunyinya: “Hasan, bapakmu ini sudah
tua, sekarang sedang musim tanam
jagung, dan kamu ditahan di penjara
pula, siapa yang mau bantu bapak
mencangkul kebun jagung ini?”
Eh, anaknya membalas surat itu
beberapa minggu kemudian. “Demi Tuhan,
jangan cangkul itu kebun, saya tanam
senjata di sana,” kata si anak dalam
surat itu.
Rupanya surat itu disensor pihak rumah
tahanan, maka keesokan harinya setelah
si bapak terima surat, datang satu
peleton tentara dari kota Medan.
Tanpa banyak bicara mereka segera ke
kebun jagung dan sibuk seharian
mencangkul tanah di kebun tersebut.
Setelah mereka pergi, kembali si bapak
tulis surat ke anaknya.
“Hasan, setelah bapak terima suratmu,
datang satu peleton tentara mencari
senjata di kebun jagung kita, namun
tanpa hasil. Apa yang harus bapak
lakukan sekarang?”
Si anak kembali membalas surat
tersebut, “Sekarang bapak mulai tanam
jagung aja, kan udah dicangkul sama
tentara, dan jangan lupa ngucapin
terima kasih sama mereka.”
Pihak rumah tahanan yang menyensor
surat ini langsung pingsan.

Indomie Abang Adek
Indomie Pedes Mampus
Indomie Pedas Mampus
Sisa Indomie Pedas Mampus
Lokasi Indomie Abang Adek


Piramida peninggalan suku Maya. kredit : whoyoucallingaskeptic.wordpress.com
Kalender Maya
Alam semesta menurut suku Maya. Kredit : edwardtbabinski.us
Ilustrasi tabrakan yang terjadi. Kredit : NASA